Senin, 02 Desember 2013

Tujuan Negara

Tujuan negara itu menentukan segala keadaan dalam negara. Dengan mengetahui tujuan negara itu, kita dapat menjawab soal legitimasi kekuasaan, yaitu kekuasaan organisasi negara, dan juga dapat mengetahui sifat organisasi negara. Sebagai sebuah organisasi, negara memiliki tujuan untuk mengarahkan segala kegiatannya. Dengan demikian, tujuan merupakan hal yang sangat penting.
 Secara umum, negara memiliki dua hal yang harus dikerjakan, yaitu:
 a. mengatur penghidupan negara dengan sebaik-baiknya; dan
 b. mengatur dan menyelenggarakan pemerintahan.
 Dengan melaksanakan dua hal tersebut, negara dapat mencapai tujuannya dengan baik. Tujuan negara akan dipengaruhi oleh tata nilai sosial sesuai budaya, kondisi geografis, sejarah, dan politik.

 Berikut ini pendapat beberapa tokoh yang mengemukakan pendapatnya tentang tujuan negara:

a. Plato (Solly Lubis : 2007)
Menurut Plato, tujuan negara adalah untuk memajukan kesusilaan manusia, baik sebagai makhluk individu maupun sosial.

b. Roger H. Soltau (Roger H. Soltau : 2007)
Menurut Roger H. Soltau, tujuan negara adalah memung- kinkan rakyatnya berkembang serta mengungkapkan daya cipta yang sebebas-bebasnya.

c. Harold J. Laski (Harold J. Laski : 1947)
Menurut Harold J. Laski, tujuan negara adalah menciptakan keadaan yang di dalamnya, rakyat dapat mencapai keinginan- keinginannya secara maksimal.

d. Aristoteles (Solly Lubis : 2007)
Aristoteles mengemukakan bahwa tujuan dari negara adalah kesempurnaan warganya yang berdasarkan atas ke- adilan. Keadilan memerintah harus menjelma di dalam negara, dan hukum berfungsi memberi kepada setiap manusia apa sebenarnya yang berhak ia terima.

e. Socrates (Solly Lubis : 2007)
Menurut Socrates negara bukanlah semata-mata merupakan suatu keharusan yang brsifat objektif, yang asal mulanya berpangkal pada pekerti manusia. Tugas negara adalah untuk menciptakan hukum, yang harus dilakukan oleh para pemimpin, atau para penguasa yang dipilah secara saksama oleh rakyat. Negara bukanlah suatu organisasi yang dibuat untu manusia demi kepentingan drinya pribadi, melainkan negara itu suatu susunan yang objektif bersandarkan kepada sifat hakikat manusia karena itu bertugas untuk melaksanakan dan menerapkan hukum-hukum yang objektif, termuat “keadilan bagi umum”, dan tidak hanya melayani kebutuhan para penguasa negara yang saling berganti ganti orangnya.

f. John Locke (Deddy Ismatullah : 2007)
Tujuan negara menurut John Locke adalah untuk memelihara dan menjamin terlaksananya hak-hak azasi manusia.yang tertuang dalam perjanjian masyarakat.

g. Niccollo Machiavelli (Deddy Ismatullah : 2007)
Tujuan negara menurut Niccollo Machiavelli adalah untuk mengusahakan terselenggaranya ketertiban, keamanan dan ketentraman. Jadi dengan demikian kalau dahulu tujuan negara itu selalu bersifat kultural, sedangkan menurut Niccollo Machiavelli tujuan negara adalah semata-mata adalah kekuasaan.
h. Thomas Aquinas (Deddy Ismatullah : 2007)
Menurut Thomas Aquinas, untuk mengetahui tujuan negara maka terlebih dahulu mengetahui tujuan manusia, yaitu kemuliaan yang abadi. Oleh karena itu negara mempunyai tujuan yang luas, yaitu memberikan dan menyelenggarakan kebahagiaan manusia untuk memberikan kemungkinan, agar dapat mencapai hidup tersusila dan kemuliaan yang abadi, yang harus di sesuaikan dengan syarat-syarat keagamaan.

i. Benedictus Spinoza
Tujuan negara menurut Spinoza adalah menyelenggarakan perdamaiaan, ketenteraman dan menghilangkan ketakutan. Untuk mencapai tujuan ini, warga negara harus menaati segala peraturan dan undang-undang negara, ia tidak boleh membantah, meskipun peraturan atau undang-undang negara itu sifatnya tidak adil dan merugikan.

Aliran Energi dan Materi di Ekosistem

Aliran Energi dan Materi di Ekosistem
Aliran energi dan materi di ekosistem merupakan proses penyebaran energi-energi dan materi-materi yang menunjang keberlangsungan ekosistem di bumi. Aliran energi dan materi di ekosistem meliputi kegiatan jaring-jaring makanan, fotosintesis dan respirasi, produktivitas primer bersih, siklus karbon, dan siklus nitrogen.
Jaring-jaring makanan merupakan bentuk bagaimana energi makanan membentuk alur makanan antara satu organisme dengan organisme lain di dalam suatu ekosistem. Terdapat dua alur pada jaring-jaring makanan berupa produsen primer yang menghasilkan makanan, lalu konsumen primer, sekunder, dan konsumen lebih tinggi yang memakannya. Kemudian kedua-duanya di urai oleh dekomposer baik tumbuhan atau hewan.
Aliran energi yang kedua yaitu fotosintesis dan respirasi yaitu proses pembuatan makanan pada tumbuhan. Produsen primer sangat berperan dalam proses tersebut.
Aliran energi yang ketiga yaitu produktivitas primer bersih, merupakan tingkat akumulasi karbohidrat oleh produsen primer.
Produktivitas primer bersih terdapat pada dua ekosistem yaitu ekosistem produktif (hutan hujan, rawa air tawar, payau) dan ekosistem tidak produktif (padang pasir). Selain itu, faktor iklim terpenting yang mengontrol produktivitas primer bersih ialah lamanya siang hari, suhu udara dan tanah, serta ketersediaan air.
Aliran energi yang keempat yaitu siklus karbon. Karbon mengalir di siklus dalam bentuk gas, cair, dan padat. Bentuk dari gas dapat berupa karbondioksida (CO2) yang di atmosfer dan dalam bentuk gas terlarut di perairan tawar dan laut. Selain itu, dalam bentuk molekul karbohidrat pada materi organik senyawa hidrokarbon di batu(minyak bumi, batubara), dan mineral karbonat seperti dalam bentuk kalsium karbonat (CaCO3).
Aliran energi yang kelima adalah siklus nitrogen. Ada lima proses siklus nitrogen, yaitu: Fiksasi, ammonifikasi, denitrifikasi, asimilasi, dan nitrifikasi. Fiksasi dan ammonifikasi memerlukan peranan dekomposer untuk mengubah nitrogen menjadi ammonia, sedangkan nitrifikasi bakteri tanah mengubah ammonia menjadi nitrat. Sisanya yaitu, denitrifikasi merupakan bakteri yang mengembalikan nitrogen ke atmosfer dalam bentuk gas nitrogen. Terakhir, asimilasi yakni akar tumbuhan menyerap nitrogen, ammonia, dan nitrat. Hewan mengasimilasi nitrogen saat memakan tumbuhan.

Etika Lingkungan

PENGERTIAN ETIKA LINGKUNGAN
Etika Lingkungan berasal dari dua kata, yaitu Etika dan Lingkungan. Etika berasal dari bahasa yunani yaitu “Ethos” yang berarti adat istiadat atau kebiasaan. Ada tiga teori mengenai pengertian etika, yaitu: etika Deontologi, etika Teologi, dan etika Keutamaan.
Etika Deontologi adalah suatu tindakan di nilai baik atau buruk berdasarkan apakah tindakan itu sesuai atau tidak dengan kewajiban.
Etika Teologi adalah baik buruknya suatu tindakan berdasarkan tujuan atau akibat suatu tindakan.
Sedangkan Etika keutamaan adalah mengutamakan pengembangan karakter moral pada diri setiap orang.
Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar manusia yang mempengaruhi kelangsungan kehidupan kesejahteraan manusia dan makhluk hidup lain baik secara langsung maupun secara tidak langsung.
Jadi, etika lingkungan merupakan kebijaksanaan moral manusia dalam bergaul dengan lingkungannya.etika lingkungan diperlukan agar setiap kegiatan yang menyangkut lingkungan dipertimbangkan secara cermat sehingga keseimbangan lingkungan tetap terjaga.
Adapun hal-hal yang harus diperhatikan sehubungan dengan penerapan etika lingkungan sebagai berikut:
a. Manusia merupakan bagian dari lingkungan yang tidak terpisahkan sehngga perlu menyayangi semua kehidupan dan lingkungannya selain dirinya sendiri.
b. Manusia sebagai bagian dari lingkungan, hendaknya selalu berupaya untuk menjaga terhadap pelestarian , keseimbangan dan keindahan alam.
c. Kebijaksanaan penggunaan sumber daya alam yang terbatas termasuk bahan energy.
Lingkungan disediakan bukan untuk manusia saja, melainkan juga untuk makhluk hidup yang lain. Di samping itu, etika Lingkungan tidak hanya berbicara mengenai perilaku manusia terhadap alam, namun juga mengenai relasi di antara semua kehidupan alam semesta, yaitu antara manusia dengan manusia yang mempunyai dampak pada alam dan antara manusia dengan makhluk hidup lain atau dengan alam secara keseluruhan.
Jenis-Jenis Etika Lingkungan
Etika Lingkungan disebut juga Etika Ekologi. Etika Ekologi selanjutnya dibedakan dan menjadi dua  yaitu etika ekologi dalam dan etika ekologi dangkal. Selain itu etika lingkungan juga dibedakan lagi sebagai etika pelestarian dan etika pemeliharaan. Etika pelestarian adalah etika yang menekankan pada mengusahakan pelestarian alam untuk kepentingan manusia, sedangkan etika pemeliharaan dimaksudkan untuk mendukung usaha pemeliharaan lingkungan untuk kepentingan semua makhluk.

Faham Manusia Dengan Lingkungannya

Paham tentang Hubungan Manusia dengan Alam
            Berkaitan dengan hubungan manusia dengan alam, ada tiga paham yang paling menonjol, yaitu paham determinisme, posibilisme dan optimisme teknologi.
Paham Determinis
Tokoh – tokohnya adalah Charles Darwin, Friederich Ratzel dan Elsworth Hutington. Pada masanya mereka memiliki pengikut yang tersebar di berbagai Negara khususnya di Eropa Barat dan Amerika Utara.
Charles Darwin (1809 – 1882), tokoh naturalis Inggris, ia mengemukakan teori Evolusi, yang dikemu-dian hari terkenal dengan “Teori Evolusi Darwin”. Dalam teorinya ini Darwin mengemukakan bahwa:
“Makhluk Hidup (tetumbuhan, Hewan, Manusia) mengalami perkembangan yang berkesi-nambungan dari waktu ke waktu. Pada perkembangan tersebut terjadi perjuangan hidup agar bisa bertahan hidup ( Struggle for life, struggle for existence) seleksi alam (natural selection) dan yang kuat akan mampu untuk bertahan untuk meneruskan kehidupannya (survival of the fittest) Dalam proses perkembangan kehidupan tadi, faktor alam sangat menentukan sekali“.
Pada teori dan pahamnya itu, jelas paham serta pandangan ini menganut determinisme alam.
Freiderich Ratzel ( 1844 – 1904) pakar geografi berkebangsaan Jerman dengan teori “Anthropogeographie” nya mengemukakan teori dan paham bahwa “manusia dengan segala kehi-dupannya sangat tergantung pada kondisi alam sekelilingnya“. Paham ini sejalan dengan apa yang pernah dikemukakan oleh Charles Darwin. Ratzel dengan para pengikutnya (Semple dan Demolins) melihat bahwa populasi manusia dengan perkembangan kebudayaannya ditentukan oleh kondisi alam. Meski manusia dipandang sebagai makhluk dinamis, mobilitasnya tetap dibatasi dan ditentukan oleh kondisi alam di permukaan bumi.
Elsworth Hutington, merupakan seorang ahli geografi Amerika Serikat yang sebenarnya menjadi pengikut paling setia dari paham Determinisme. Bukunya yang sangat terkenal berjudul “Principle of Human Geography.“ Ia memiliki pandangan bahwa iklim sangat menentukan perkembangan kebudayaan manusia. Karena iklim dipermukaan bumi ini bervariasi, kebudayaan itupun juga sangat beraneka ragam. Perkembangan seni, agama, pemerintahan dan segi – segi kebudayaan lain sangat bergantung pada iklim setempat. Paham dan pandangannya ini kemudian disebut sebagai “Determinisme Iklim”

Paham Posibilisme
EC Semple, semula ia menjadi pengikut Determinisme Ratzel, kemudian dapat melepaskan diri dari paham tersebut. Menurut pandangannya “kondisi alam bukan menjadi faktor satu – satunya yang menentukan, melainkan menjadi faktor pengontrol, memberikan kemungkinan atau setidak – tidaknya memberi peluang yang mempengaruhi kegiatan serta kebudayaan manusia“. Oleh karena itu, paham ini selain disebut paham posibilisme, dapat juga disebut sebagai paham “Probabilisme”.
Tokoh penting lainnya yang dapat melepaskan diri dari aliran determinisme pada jamannya, yaitu Paul Vidal de la Blache (1845 – 1919) ahli geografi Perancis. Menurut nya faktor yang menentukan bukanlah alam, melainkan proses produksi yang dipilih oleh manusia yang berasal dari kemungkinan kemungkinan yang diberikan oleh tanah, iklim dan ruang suatu wilayah. Tipe proses produksi itu disebutnya sebagai “genre de vie” dengan menerapkan konsep genre de vie ini, manusia tidak lagi dipandang pasif terhadap alam lingkungan, namun merupakan faktor yang aktif terhadap pemanfaatannya. Sedangkan  alam lingkungan sendiri memberi kemungkinan terhadap perkem-bangan kehidupan dan budaya manusia.
Pada paham posibilisme atau probabilisme ini kedudukan manusia dan hewan ditempatkan sebagai makhluk yang berbeda, terutama dengan tetumbuhan yang selalu terilkat pada tempat serta tunduk sepenuhnya pada kondisi alam setempat. Manusia telah dipandang sebagai makhluk yang mampu memanfaatkan alam sesuai dengan kemungkinan yang dapat dilakukan dan ditempuhnya. Alam lingkungan sebagai faktor yang berpengaruh terhadap kehidupan manusia, tidak lagi dipandang sebagai faktor yang menentukan. Manusia dengan kemampuan budayanya dapat memilih kegiatan yang cocok sesuai dengan kemungkinan dan peluang yang diberikan oleh alam lingkungannya, telah dipandang aktif sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.
Pada perkembangan dan kemajuan IPTek yang seperti kita alami seperti sekarang ini seolah – olah penerapan serta pemanfaatannya itu memberikan kemungkinan terhadap kemampuan manusia memanfaatkan alam lingkungan. Sehingga pada suasana yang demikian, dapat berkembang pandangan “Posibilisme Optimisme Teknologi” yang secara optimis memberikan kemungkinan kepada  penerapan teknologi dalam memecahkan masalah hubungan manusia dengan alam lingkungan. Dari posibilisme optimisme teknologi tadi  dapat mengarah ke Deter-minisme Teknologi yang sangat berbahaya. Sebab dengan pandangan seperti ini, manusia sangat bergantung pada teknologi dapat mengabaikan “hukum alam” yang sebenarnya mengatur keseimbangan ekosistem. Bagaimanapun juga manusia dan teknologinya “tidak dapat menguasai alam dan bukan penguasa alam”. Manusia hanyalah bagian dari alam yang “kebetulan” memiliki kemampuan budaya dalam mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam. Namun demikian, untuk menjaga dan mempertahankan keseimbangan serta kelestarian alam lingkungan, manusia wajib memperhatikan azas dan hukum alam yang menjadi kaidah alam. Memang pada konsep geografi dan ekologi manusia ada “man ecological dominant concept” yang berarti manusia merupakan faktor dominan terhadap lingkungannya. Akan tetapi hal yang demikian ini tidaklah berarti bahwa manusia mutlak  menjadi penguasa alam lingkungan, namun ia masih tetap menjadi bagian dari alam yang selalu tunduk pada azas dan hukum alam. Kemampuan intelektual yang terungkap pada kemampuan budaya, merupakan instrumen untuk mengelola dan memanfaatkan alam lingkungan ini. Manusia sebagai pemanfaat dan pengelola sumber daya alam, tetap tunduk pada azas serta hukum alam. Dengan demikian, berlandaskan paham  posibilisme atau probabilisme ini, manusia ditempatkan sebagai “Pemanfaat dan sekaligus Pengelola alam” dengan berlandaskan “kemungkinan” penerapan IPTek sesuai dengan kondisi alam lingkungan  tersebut. Untuk menjaga dan mempertahankan keseimbangan dan kelestarian ekosistem dalam memanfaatkan sumber daya alam bagi kesejah-teraan umat manusia, manusia sendiri wajib tunduk kepada azas dan hukum alam yang berlaku.
Paham Optimisme Teknologi.
Perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan telah menjadi dasar pesatnya kemajuan teknologi, kemajuan dan penerapan teknologi telah membawa kemajuan pemanfaatan sumber daya alam bagi kepentingan pembangunan yang menjadi penopang kesejahteraan umat manusia. Atas dasar tersebut, telah muncul “teknologi merupakan tulang punggung pembangunan” lahirnya motto tersebut beralasan sesuai dengan kenyataan bahwa keberhasilan pembangunan, khususnya pembangunan fisik dan ekonomi, tidak dapat dipiisahkan dari penerapan dan pemanfaatan teknologi tersebut. Penerapan dan pemanfaatan teknologi telah mampu membuka sebahagian “rahasia alam” bagi kepentingan kesejahteraan umat manusia. Berdasar keberhasilan tersebut, ada sekelompokj manusia yang seolah – olah mendewa dewakan teknologi, menjadikan teknologi adalah “segala galanya” mereka merasa optimis selama teknologi maju dan berkembang, apapun dapat dilakukan, apapun dapat menjamin segala kebutuhan hidup dan kehidupan manusia. Selanjutnya mereka mengarah pada ketergantungan teknologi, atau yang seperti dikemukakan diatas, menciptakan suasana determinisme teknologi. Bahkan bahaya selanjutnya mungkin terjadi “mempertuhankan teknologi”.
Padahal kalau kita telaah dan kita kaji lebih tenang, teknologi yang merupakan produk budaya manusia : technology is the application of knowledge by man in order to perform some task he wants done (Brown & Brown : 1975 : 2), dimana teknologi yang sebenarnya ber tuan kepada  manusia, tidak sebaliknya. Manusia sebagai pemikir lahirnya teknologi, menjadi pengendali teknologi, bukan teknologi yang menguasai manusia.

Komponen Biotik Menurut Tingkatan dan Fungsinya

< Komponen Biotik Menurut Tingkatnya >
Berdasarkan tingkat organisasinya komponen biotik dibagi menjadi 5 yaitu :
Individu, yaitu makhluk hidup tunggal yang tidak dapat dipisahkan. Contoh: Seorang manusia, sekor burung, dan satu pohon mangga.
Populasi,yaitu sekelompok individu dari satu spesies yang menempati suatu daerah tertentu dan pada waktu tertentu. Contoh: populasi ikan mas didalam kolam
Komunitas yaitu sekumpulan populasi dari spesies berbeda yang menempati daerah yang sama dan pada waktu tertentu. Contoh: Komunitas Binatang dan Tumbuhan dihutan.
Ekosistem, yaitu hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan lingkungannya yang terdiri atas komunitas yang berbeda. Contoh: Ekosistem darat dan ekosistem Laut
Biosfer, yaitu kumpulan berbagai ekosistem (meliputi semua organisme dan lingkungan) yang terdapat di wilayah geografis yang sama (dengan iklim dan kondisi lingkungan yang sama) serta berinteraksi untuk berlansungnya sistem pendayagunaan energi dan daur ulang materi.


< Komponen Biotik Menurut Fungsinya >
Berdasarkan Fungsinya, komponen bitik terbagi atas:
Produsen (autotrof), yaitu organisma yang dapat mensintesis bahan organic sendiri dengan bantuan cahaya matahari. Produsen dapat dibedakan menjadi organisme Kemoautotrof dan Fotoautotrof. contoh:
Tumbuhan Hijau
Konsumen (heterotrof), yaitu organisme yang tidak dapat mensintensis bahan organic sendiri. Contohnya hewan dan Manusia. Berdasarkan tingkatannya, konsumen dapat dibedakan menjadi 5, yaitu:
Konsumen Primer (Herbivora), yaitu konsumen pemakan produsen
Konsumen Sekunder (Karnivora), yaitu konsumen pemakan konsumen primer
Konsumen Tersier (Karnivora Besar), yaitu konsumen pemakan konsumen sekunder
Detritivor, yaitu organisme pemakan organisma lain(bangkai).contoh: Cacing Tanah.
Pengurai (decomposer), yaitu organisme yang menguraikan bahan2 organik lain. contoh: Jamur.


Sumber tugas PLH SMA Kelas X
Semoga bermanfaat bagi kawan kawan